Sunday, October 21, 2012

Transformasi Falsafah Ilmu

Ilmu berupa pengetahuan kolektif manusia berkembang sesuai dengan sarana kominfo yang dominan pada suatu waktu. Pengetahuan sosial dari masa ke masa berkembang dari mitologi ke teologi terus ke filsafat yang digantikan sains yang segera diganti oleh ideologi yang kini pada gilirannya digantikan oleh imagologi. Teologi dan filsafat dilahirkan oleh teknologi tulis, sedangkan sains dilahirkan oleh teknologi cetak. Sementara itu ideologi menjadi dominan di abad 20 ketika media elektronik seperti radio dan televisi menjadi dominan. Kini imagologi dominan ketika komputer dan internet menjadi dominan di abad 21.

Pada mulanya : pramodernitas

Ketika percakapan lisan adalah teknologi kominfo yang dominan di era prasejarah maka ilmu dinyatakan dalam cerita-cerita pusaka turun-temurun yang sekarang kita kenal sebagai mitologi. Dalam era mitologi ini tak ada filsafat ilmu, karena logika pun belum ada. Logika baru muncul setelah ditemukannya alfabet yang fonetik.
Kemudian manusia mengalami revolusi urban, teknologi kominfo utama adalah tulisan . Dengan tulisan manusia bisa berpikir tentang berpikir, sehingga berkembanglah ilmu logika. Berdasarkan logika ini maka manusia bisa menuangkan pengetahuannya dalam teologi yang logis. Namun sayang kominfotek ini hanya dikuasai para pendeta di kuil-kuil mereka, karena sulitnya memperbanyak naskah-naskah tulis.
Dalam era naskah ini, Plato menyatakan bahwa pengetahuan manusia adalah anamnesis atau pengingatan akan obyek-obyek sempurna di alam ide yang merupakan realitas abadi lebih nyata dari alam benda-benda. Murid Plato, Aristoteles
, justru mengatakan bahwa benda-benda sekitar kita yang mempunyai eksistensi nyata, sedangkan ide hanyalah abstraksi yang hanya ada dalam pikiran manusia. Pandangan Plato disebut idealisme, sedangkan pandangan Aristoteles disebut sebagai realisme.
Ibn Rusdh (Averous)
Ibnu Sina (Avicena)
Di abad pertengahan peradaban Kristen Eropa pandangan Plato didukung oleh SantoAgustinus , sedangkan pandangan Aristoteles menjadi matang di tangan Santo Thomas Aquinas . Di dunia Islam, pandangan Plato terbayang dalam filsafat Al Ghazali , sedangkan pandangan Aristoteles menjadi matang di tangan Ibnu Rusyd  yang kemudian ajarannya dikenal di Eropa sebagai Averoisme. Gereja menentang Averoisme dengan argumen-argumen yang mirip dengan argumen Al-Gazali melawan kaum falasifah eperti Ibnu Sina . Bahkan Thomas Aquinas melawan Averoisme dan mengembangkan pandangan sendiri yang menyatukan rasionalisme Aristoteles dengan iman Kristen.

Renaissance: lahirnya modernitas

Johan Gutenberg
Mesin Cetak Pertama ciptaaan Gutenberg
Galileo Galilei
Johanes Kepler
Pada abad XV, Johan Gutenberg menemukan mesin cetak manual  di tahun 1544 yang memungkinkan buku-buku menjadi murah sehingga bisa dibaca rakyat kebanyakan. Akibat dari revolusi teknologi cetak ini, di Eropa terjadi proses revolusioner Renaissance yang melahirkan Galileo Galilei (1564-1642) dan Johannes Kepler (1571-1630)sebagai perintis-perintis ilmu pengetahuan modern. Maka pengetahuan pun menjadi lebih individual dalam bentuk filsafat. Sains yang kita kenal sekarang, pada waktu itu sebagai salah satu cabang filsafat yaitu filsafat alam.
Francis Bacon
John Locke
Adalah Francis Bacon (1561 – 1626)  yang menyatakan bahwa mesin cetak, mesiu dan kompas telah membentuk peradaban setelah Renaissance. Bacon juga yang mengajukan metoda induksi sebagai komplemen bagi metoda deduksi yang ditemukan Aristoteles. John Locke (1632-1704)  kemudian mengambil pandangan ekstrim empirisme yang mengatakan bahwa sumber semua pengetahuan adalah pengindraan manusia. Pandangan empirisme ini ditentang oleh Rene Descartes (1696-1750)  dengan filsafat rasionalisme yang mengatakan bahwa dengan skeptisisme sistematik dia mengambil kesimpulan bahwa sumber pengetahuan yang sejati adalah akal budi atau rasio manusia.

Revolusi sains: modernisasi lebih lanjut

Isaac Newton (1643-1726)  mensintesakan penemuan matematis Kepler dan penemuan empiris Galileo dalam teorinya tentang gerak, mekanika, dengan judul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica . Newton sukses mengajukan mekanikanya karena dia telah menggabungkan metoda matematik metoda eksperimental. Rasionalisme sebagai lawan empirisme diajukan sebagai dua metoda yang saling melengkapi, bukan sebagai dua filsafat yang saling berlawanan.
Adam Smith
Sigmund Freud
Sukses Newton dibidang fisika ini menghasilkan sebuah wawasan mekanisme yang menggantikan wawasan organisme Aristoteles yang ternyata gagal menyatukan pengetahuan tentang gerak di bumi dan gerak di langit. Sukses mekanisme di fisika itu segera menjadi model bagi pencarian mekanisme di bidang-bidang ilmu kealaman lainnya seperti misalnya biologi oleh Charles Darwin  bahkan juga di ilmu-ilmu kemanusiaan seperti ekonomi oleh Adam Smith  dan psikologi oleh Sigmund Freud  . Pandangan bahwa alam sebagai mesin yang mendasari sains itu kini dikenal sebagai paradigma Newtonian.
James Watt
Hegel
Karl Marx
Pandangan mekanisme ini menjadi sangat dominan setelah mesin uap ciptaan James Watt  menjadi pendorong selanjutnya demokratisasi politik dan ekspansi ekonomi negara-negara Eropa sehingga mereka memasuki peradaban industrial. Tentu saja mekanisasi kemanusiaan ini mengalami reaksi filosofis yang menekankan bahwa masyarakat manusia tidak mengikuti suatu mekanika melainkan sebuah dialektika. Hanya saja reaksi filosofis ini tidaklah satu melainkan dua. Hegel mengajarkan idealisme dialektik dan Karl Marx mengajarkan materialisme dialektik. Kedua filsafat itu kemudian menjadi bentuk pengetahuan sosial yang disebut sebagai ideologi.

Abad 20: maksimasi modernitas

Radio pertama
Adolf Hitler
Stalin
Rudolp Carnap
Edmund Husserl
Abad ke-20 kemudian menjadi era konflik ideologis yang ditandai oleh dua perang dunia dan satu perang dingin. Perang ideologis ini dimungkinkan oleh lahirnya media elektronik radio yang menjadi corong bagi para pemimpin karismatik seperti Hitler  di Jerman dan Stalin  di Rusiauntuk menyebarkan ideologinya secara luas dengan meyakinkan pada rakyatnya. Pada era ini lahirlah dua pandangan filsafat ilmu yang saling bertentangan: neo-positivisme dan fenomenologi. Neo-positivisme, yang diajukan oleh anggota-angota Lingkaran Wina, seperti miusalnya Rudolf Carnap , mengunggulkan logika matematis sebagai sarana ampuh bagi sains untuk menata data empiris sains dan melecehkan metafisika sebagai sebagai tak berarti. Sebaliknya fenomenologi, yang diajukan oleh Edmund Husserl  adalah filsafat yang menekankan fundamentalitas pengalaman subyektif manusia sebagai suatu keutuhan, sedangkan formula-formula matematika hanyalah karikatur yang memiskinkan pengalaman indrawi manusia.

Abad ke-21: Akhirnya …. posmodernitas

Werner Heissenberg
Jean Francois Lyotard
Namun untungnya awal abad ke-20 terjadi dua revolusi di bidang fisika yang mengoreksi mekanika klasik Newton. Revolusi yang pertama adalah lahirnya teori relativitas temuan Albert Einstein  dan yang kedua adalah lahirnya mekanika kuantum dibidani oleh Werner Heisenberg . Einstein mendapat hadiah Nobel pada tahun 1921 karena penemuan rumus efek fotolistrik yang kemudian ternyata mengubah dunia dengan ditemukannya televisi  . Heisenberg mendapat hadiah Nobel pada tahun 1932 karena penemuannya mekanika benda-benda sebesar atom dan yang lebih kecil lagi sehingga memungkinkan ditemukannya mikroprosesor  yaitu jantung mesin-mesin komputer  sedunia yang kini terkoneksi dalam jaringan internet . Komputer telah menyebabkan sosiolog Prancis Jean-Francois Lyotard  melahirkan pemikiran posmodernisme, dalam bukunya  yang kemudian, di kalangan humaniora, didominasi pos-strukturalisme seperti Jacques Derrida  yang melecehkan sains dengan menganggapnya sebagai salah satu dari wacana-wacana relatif berupa konstruksi intersubyektif lainnya seperti novel, puisi, teologi, mitologi dan lain sebagainya.
Sebaliknya di kalangan ilmuwan, diilhami komplementaritas partikel gelombang di fisika kuamtum, justru muncul kecendrungan melihat materi dan pikiran ataupun sains dan agama sebagai sisi-sisi komplementer suatu realitas utuh menyeluruh yang saling melengkapi satu sama lainnya. Pandangan seperti inilah yang disebut sebagai holisme seperti yang disebarkan oleh fisikawan Amerika Fritjof Capra yang menulis buku “The Tao of Physics” 

Kesimpulan

Sejarah perkembangan peradaban tak bisa dipisahkan dengan perkembangan teknologi terutama teknologi komunikasi informasi. Teknik tulis-menulis melahirkan pengetahuan sebagai cabang filsafat dan pertentangan antara idealisme yang subyektif dan realisme yang obyektif. Penemuan teknik cetak-mencetak menghasilkan pertentangan antara filsafat rasionalisme yang subyektif dan empirisme yang obyektif. Penemuan media elektronik menimbulkan pertentangan antara fenomenologi yang berorientasi pada subyek dan neo-positivisme yang berorientasi pada obyek. Penemuan komputer menghasilkan perdebatan antara pos-strukturalisme, yang intersubyektif, dan holisme yang menyatukan subyek dan obyek. Artinya, perkembangan teknologi menghasilkan visi-visi baru tentang subyektivitas manusia dan obyektivitas alam. Dan transformasi visioner ini pada gilirannya menyebabkan adanya transformasi ilmu dan filsafat ilmu.
Sumber:http://www.facebook.com/note.php?note_id=380423071800&comments=

Thursday, October 18, 2012

Jalan Kebaikan, Jalan Keselamatan

Bismillahirrohmanirrohim, Assolatu wassalam ala Rasulillah waman waalah, Amma Ba’d,.. Dengan Nama Allah yang Maha Sejahtera (As-Salam). Tuhan yang mengutuskan Rasulullah saw sebagai hamba penyelamat (Abdus Salam). Nabi dan Rasul yang membawa Rahmat Kebaikan dan Keselamatan kepada umat sepanjang zaman bermula dari zamannya dan Sahabat (Companions), tabi’in (followers), tabi’tabi’in(follower of the followers) sehinggalah zaman kita (khalaf). Sabda Rasulullah: “Sebaik-baik kurun adalah kurunku, kemudian selepas itu, kemudian selepas itu.” Merekalah yang membawa panji Islam yang mensejahterakan sekalian alam, bahkan Islam bermaksud “sejahtera” atau “selamat”. Segala ajaran Islam terkandung dalam Al-Quranul Karim dan Sunnah itu telah memberikan panduan kepada kita ke arah jalan yang baik, selamat dan sejahtera. Alhamdulillah. Maka benarlah sabda Rasulullah saw itu, di mana nilai-nilai Islam yang terkandung dalam ajaran Islam itu telah disampaikan. Tinggal sahaja usaha kita untuk menghayati makna dan melaksanakan ajaran tersebut. Rasulullah saw tidak meninggalkan kepada kita harta material, sebaliknya “harta” yang berupa wahyu yang suci yang telah dihidangkan kepada kita, seterusnya naskhah-naskhah dicetak dan dibaca dengan begitu meluas. Sabda Nabi: “Aku tinggalkan kepada kamu semua dua perkara, kamu tidak akan sesat selagi kamu berpegang kepada keduanya iaitu Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnahku.” Sepertimana yang telah dijelaskan, Islam bererti selamat sejahtera. Umat mengucapkan salam selamat sejahtera dan membalas ucapan salam dengan ucapan salam juga (alaikumussalam), atau yang lebih baik (waalaikumussalam warahmatullah) seperti yang masyhur dalam hadis mengenai fadhilat (kelebihan) memberi dan menjawab salam. Antara kelebihan ialah mendapat pahala menghidupkan sunnah, mendoakan kesejahteraan dan keselamatan serta mengeratkan hubungan silaturrahim. Memberi salam adalah wajib sementara menjawab adalah sunat. Alhamdulillah, pada hari ini, ucapan salam telah menjadi budaya yang baik yang diamalkan oleh umat Islam samaada secara lisan atau tulisan. Media elektronik juga tidak ketinggalan membudayakan ucapan salam, adalah lebih baik jika kita menjawabnya, kerana ucapan itu ditujukan kepada kita sebagai khalayak. Adapun khalayak yang bukan beragama Islam, mereka mengamalkan ucapan yang baik seperti “Good Morning” yang bererti selamat pagi, atau “Good Night” yang bererti selamat malam. Kesemua ucapan ini adalah doa yang baik dan elok diamalkan oleh manusia. Tetapi sebaik-baik ucapan dan doa ialah salam “Assalamualaikum” kerana menghidupkan sunnah. Demikian diajarkan oleh Rasulullah saw (peace be upon him), para Salafus Soleh (Orang dahulu yang baik2 yg terdiri dari Rasulullah saw dan Sahabat ra) serta para khalaf (Orang kebelakangan). Selawat dan salam ke atas Rasulullah saw, para keluarganya dan Sahabat ra.. Kita sedang berada di zaman moden, zaman di mana Rasulullah saw dan Sahabat ra telah lama meninggalkan kita. Akan tetapi, sementara keberadaan hidup ini kita masih berpeluang untuk “menghidupkan” semula zaman tersebut dari segi amalan dan penghayatan kerana “harta” yang Rasulullah saw tinggalkan kepada kita iaitu Kitabullah dan Sunnah masih ada, maka gunakanlah “harta” tersebut sebaik-baiknya. “Harta” tersebut diturunkan dan dijaga oleh Allah dan ianya perlu menjadi khazanah yang disayangi. Umat lain sebelum Islam juga mendapat “harta” tetapi “harta” tersebut telah dirosakkan oleh tangan-tangan mereka. Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Islam amat menitikberatkan umatnya supaya mencari jalan yang “baik” (good)-subulassolah, dan jalan yang “selamat” (peace)-subulassalam. Jika kebaikan mendapat tempat dan kesukaan umat, maka umat itu akan sentiasa berada dalam daerah kebaikan (darul khair), dan jika keselamatan mendapat tempat dan kesukaan umat, maka umat itu akan sentiasa berada dalam keadaan selamat, dan menuju ke daerah keselamatan (Darus Salam). Kita disyorkan supaya sentiasa bermohon kepada Allah agar ditempat kan di dalam daerah keselamatan di dunia dan di akhirat. “Ya Allah, Engkaulah yang Maha Sejahtera, dan dari Engkau kesejahteraan, dan kepada Engkau tempat kembalinya kesejahteraan, maka hidupkanlah kami dengan sejahtera, dan masukkanlah kami ke dalam syurga Darus Salam.” Allahumma antas salam, waminkas salam, wailaika ya’udus salam, fahayyina robbana bissalam, wa adkhilnal jannata Darus Salam. Tujuan Islam menganjurkan kebaikan ialah supaya umat mendapat manfaat yang besar. Umat akan diserapi sifat-sifat atau prinsip yang baik dan suka berbuat baik seperti kepada ibu bapa, jiran tetangga, saudara-mara, kenalan, dan lain-lain yang dikenali atau tidak dikenali. Dari situ diharapkan akan lahir suasana yang baik (biah solehah), pemimpin yang baik, rakyat yang baik, masyarakat yang baik, ummah yang baik, negara yang baik dan dunia yang baik. Firman Allah: “Wahai Tuhan kami, kurniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jauhkanlah kami dari api neraka.” Ini seharusnya menjadi visi dan misi hidup kita di dunia ini selain beribadah kepada Allah. Firman Allah: “Tidak Aku jadikan jin dan manusia itu melainkan untuk beribadah kepadaKu.” Demi kemaslahatan diri perbanyakkanlah beribadah kepada Allah dengan amal soleh, dan demi kemaslahatan ummah perbanyakkanlah berbuat kebajikan. Manakala tujuan Islam menganjurkan keselamatan ialah supaya keamanan (peace) dan kebahagiaan (happiness) dapat dikecapi. “Keselamatan” adalah satu agenda Islam yang besar kerana matlamat agenda tersebut ialah keberhasilan dan pencapaian untuk mendapat ketenangan (mut’mainnah) yang hakiki di dunia dan akhirat. Moga kita dimasukkan ke dalam syurga Darus Salam dan selamat dari nyalaan api neraka. Sekian, terima kasih kerana membaca.

MEMBUDAYAKAN INTEGRITI DALAM KEHIDUPAN DAN MASYARAKAT

MEMBUDAYAKAN INTEGRITI DALAM KEHIDUPAN DAN MASYARAKAT Sejak akhir-akhir ini, isu integriti hangat kembali diperkatakan. Walaupun istilah integriti ini telah lama muncul , tapi secara rasminya di malaysia, ia disebut-sebut oleh Tun Abdullah Ahmad Badawi, semasa beliau menjadi PM. Walaupun masa pemerintahannya singkat iaitu 5 tahun, beliau telah memikirkan dan melahirkan idea mengenai Pelan Integriti Nasional. Tetapi sejauh mana pelaksanaan, dan sejauh mana pengamalan, dalam kata lain, sejauh mana berintegritinya rakyat Malaysia, terutama para penjawat awam. Tidak kira penjawat awam atau swasta, integriti adalah nilai yang baik yang harus ada pada setiap warga Malaysia tak kira muda atau tua, kecil atau besar, kaya atau miskin. Saya suka membawa para pembaca sama-sama “rethinking” mengenai integriti ini, dan memperkatakan kembali mengenai isu yang agak terpinggir ini, ke arah memekarkan kembali perjalanan hidup kita sebagai manusia dan hamba Allah. Dalam Islam, kita wajib memupuk akhlak mulia dan nilai murni dalam kehidupan, lebih-lebih lagi kalau kita seorang penjawat awam. Sebagai salah seorang anggota masyarakat, atau diibaratkan sebagai butir pasir yang mengukuhkan suatu binaan, adalah menjadi kewajipan kepada kita bertanggungjawab dan berdisiplin ketika bekerja. Kita harus mematuhi peraturan di tempat kerja, saling hormat-menghormati,saling bantu-membantu, bekerjasama dan bersemangat sebagai satu pasukan (esprit de corp), berbudi bahasa, mengutamakan kebajikan rakan sekerja, menyampaikan ilmu pengetahuan, mengambil berat seperti saling bertanya khabar, saling nasihat-menasihati, menziarahi ketika sakit dan sebagainya. Integriti penjawat awam satu hal yang perlu difikirkan. Bagaimana pula integriti sebagai penjawat swasta? Cukup berakhlakkah kita dengan pelanggan? Adakah kita mengutamakan kehendak pelanggan (pasaran) atau sebaliknya? Tetapi kalau mengutamakan kehendak pelanggan pun janganlah sampai menggadai maruah dan tatasusila kehidupan. Orang “offer” rasuah, kita ambil. Orang beri betis nak peha. Fikirkan hak orang lain juga. Orang di negara maju tidak memandang itu semua sebab ia menyalahi undang-undang (kepatuhan orang maju terhadap undang-undang sangat tinggi),tetapi merit dan peluang. Bagaimana integriti sebagai ibu-bapa? Adakah para ibu-bapa cukup berintegriti dengan anak-anak? Adakah masih ada di kalangan ibu bapa yang meludah ditempat awam , merokok di depan anak-anak, bercakap kasar kepada orang tua, anak dan isteri. Ini tentu memberi contoh yang buruk yang tidak wajar diteladani oleh anak-anak. Kita dengan mudah kata “yang baik tiru, yang tak baik jangan tiru” depan anak-anak. Ibubapa dalam role model kepada anak-anak. “Art of living” kena pandai, barulah tidak dikatakan “seperti ibu ketam yang mengajar anaknya berjalan betul.” Ibubapa kena pandai ilmu taksir, sebab pepatah mengatakan “ bapa borek anak rintik.” Jangan pula “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Menyesal kemudian tak berguna. “Dah terhantuk baru nak tengadah.” Dalam soal agama pula, ibu bapa perlu memberi contoh persekitaran yang baik seperti rajin solat bila masuk waktunya. Dengan cara ini, secara tidak langsung, ia mendidik anak-anak patuh kepada ajaran agama, seawal kanak-kanak, sehinggakan kepatuhan mereka kepada Allah, dalam menunaikan kewajipan solat, bila meningkat remaja kelak tidak perlu dipantau lagi. Secara automatis, bila azan berkumandang, ingatan pada solat. “Ibadat didahulukan, solat diutamakan.” Dengan cara ini, secara perlahan-lahan, individu tidak lagi berfikiran terlalu liberal (liber=bebas), sehingga kewajipan solat diremeh-remehkan, begitu juga kewajipan menutup aurat. Soal solat dan aurat adalah asas dalam Islam. “Fail” individu ketika di dunia soal solat dan aurat, maka “fail” juga di akhirat. Ini kita tidak mahu dan cuba menghindarkan bersama-sama. Siksaan kubur dan api neraka sentiasa dekat dengan orang yang mencuaikan kewajipan solat dan aurat. Integriti, akhlak mulia dan nilai murni berkait rapat dengan akhirat. Nabi pernah ditanya perihal orang yang paling banyak masuk syurga. Baginda menjawab : “Taqwa kepada Allah dan Akhlak yang Baik.” (HR Tirmidzi) Saya tak ingin memperpanjangkan bicara mengenai solat dan aurat. Saya anggap semua orang sudah “tahu”, tinggal lagi samaada kalian “faham”, “boleh buat” atau “boleh buat dengan beradab” atau “boleh buat dengan beradab mithali.” (Terima kasih Encik Rohesan dari KPM atas taklimat dan pencerahan mengenai KSSR). Sekian dahulu coretan ringkas. Berjumpa lagi di lain kesempatan.